Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Forest Products Research and Development Center

PANEN PADI VARIATES CIHERANG DENGAN APLIKASI ARKOBA DAN CUKA KAYU DI CIANJUR

09 Agustus 2016, 15:25 WIB | Diupload oleh Dede Rustandi

Kepala Pusat Litbang Hasil Hutan foto bersama kelompok tani, penyuluh, ketua pesantren, dan petani

(P3HH INFO) CIANJUR – Kepala Pusat Litbang Hasil Hutan (Dr.Ir. Dwi Sudharto, M.Si) memanen padi variates ciherang yang telah mengaplikasikan Arang Kompos Bioaktif (Arkoba) dan Cuka Kayu pada sawah yang ditanami padi di Desa Kerjatajaya, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur tanggal 2 Agustus 2016. Hasil panen padi di lokasi tersebut menunjukan hasil lebih banyak dibandingkan dengan menggunakan pupuk anorganik. Secara langsung dapat dilihat bahwa tanah yang telah diberi arkoba dan cuka kayu lebih gembur dibandingan dengan sawah yang diberi pupuk anorganik. Selain itubutiran padi lebih padat, daun padi tampak masih kelihatan hijau dan tidak cepat kuning walaupun padi telah menguning (masak). Manfaat yang dapat dilihat dari penggunaan cuka kayu adalah tidak mengundang hama, penyakit dan belalang. Kegiatan pemanenan tersebut disaksikan langsung oleh Kelomok Tani Itikulir, Penyuluh Kehutanan, Petani, pemimpin Pondok Pesantren dan Masyarakat sekitar.

Pada kesempatan tersebut, Dr. Dwi Sudharto menyampaikan manfaat Arkoba dan Asap Cair atau Cuka Kayu untuk tanaman. “Dari hasil panenan hari ini tampak manfaat Arang Kompos Bioaktif dan asap cair terhadap padi. Sebelumnya kasiat ARKOBA dan cuka kayu sudah diketahui untuk tanaman kehutanan dan ini merupakan bukti yang bagus bahwa ARKOBA dan cuka kayu dapat digunakan pada tanaman pertanian seperti padi. Hasil panen padi menunjukkan kasiat ARKOBA dan Cuka Kayu tidak kalah dengan pupuk anorganik (kimia) dan tidak ada hama yang mendekat seperti: tikus, wereng, belalang, walang sangit dan sebagainya itu menjauh” ujarnya.

Manfaat lain dari pemberian cuka kayu adalah tanah menjadi lebih subur atau tanah tetap dalam kondisi lembap dan daun padi yang masih hijau walaupun padi telah menguning atau masak. Sebagai perbandingan, padi yang menggunakan pupuk kimia daunnya menjadi cepat kering pada saat dipanen dan tanah menjadi keras. Tanah yang telah keras akibat pupuk kimia perlu sekitar 3 sampai 4 tahun untuk kembali ke kondisi semula. Hal ini berbeda dengan penggunaan arang kompos dan cuka kayu. Persawahan yang menjadi percontohan penggunaan arang kompos dan asap cair ini ditanam pada tanggal 20 April 2016 dan diberi arang kompos 900 kilogram pada area 2000 m2 satu hari sebelum penanaman dan secara priodik disemprot dengan asap cair.

Arang kompos merupakan perpaduan antara arang dan kompos, sedangkan cuka kayu adalah asap cair yang ditangkap dari pembakaran arang. Kombinasi ketiganya terbukti telah meningkatkan produktivitas tanaman. Arang kompos dan cuka kayu dapat diperoleh dengan harga murah dengan hasil yang nyata, sehingga dapat diaplikasikan pada masyarakat kecil.

Penggunaan arang kompos adalah dua atau tiga bagian, sedangkan pupuk kimia menggunakan perbandingan sepuluh bagian, sehingga penggunaan arang kompos lebih murah. Produktivitas tanaman yang dihasilkan relatif sama, untuk itu perlu pencermatan lebih lanjut untuk mendapatkan dosis arang kompos dan cuka kayu yang optimal untuk pertumbuhan tanaman.

Pada kesempatan tersebut, tampak petani di sekitar lokasi sangat antusias mengetahui hasil panenan padi tersebut, karena saat ini petani menanggung biaya pemupkan yang sangat tinggi dengan pupuk anorganik. Satu hektar lahan persawahan kira-kira memerlukan 2 juta rupiah untuk membeli pupuk kimia. Arang kompos dapat dipersiapkan sendiri oleh petani dari sampah organik dalam waktu satu minggu sampai satu bulan, sehingga relatif lebih murah.

Menurut Prof.Dr. Gustan Pari cerita arang komos dan asap cair sebenarnya sudah ada sejak seratus tahun yang lalu, namun pengembangannya baru dilakukan belakangan ini. Aplikasi arang kompos dan cuka kayu sudah saatnya diterapkan oleh masyarakat, terutama dengan bantuan alat pembuat arang dan asap cair. Hal ini merupakan proses yang panjang, karena merubah kebiasaan petani dari menggunakan pupuk kimia dan beralih ke arang kompos. Proses pembuatan arang kompos relatif sederhana salah satunya dengan pembusukan jerami yang telah dibakar jadi arang dicampur dengan kotoran kambing atau sapi. Karena kotoran hewan itu berbau maka sebaiknya disemprot dengan asap cair sehingga menjadi netral. Teknologi sederhana ini akan dikembangkan melalui pesantren-pesantren secara terpisah arang kompos dan asap cair maupun terintegrasi. Bahan yang dipersiapkan relatif mudah diperoleh, yaitu ranting-ranting pohon dan/atau daun-daun kering. Fungsi utama arang adalah mendekatkan unsur hara yang ada dalam tanah supaya terserap dan tersimpan untuk kebutuhan tanaman.

Penggunaan arang kompos ini awal mulanya di Terapetra, Amazon, dimana tanah disekitanya subur dan setelah dicek terdapat arang di area tersebut yang diperkirakan telah berumur delapan ribu tahun yang lalu. Selain berfungsi menyimpan unsur hara, arang kompos juga memiliki fungsi menetralisir pH tanah. pH tanah asam mengurangi pertumbuhan tanaman, sedangkan arang kompos mampu menurunkan pH tanah mencapai sekitar netral 6,5 sehingga pertumbuhan tanaman optimal. Hal ini dapat dilihat pada tanah asam yang ditemukan di Ciloto dengan pH-nya 3 berubah menjadi 6,5 setelah menggunakan arang kompos.

Komposisi Arkoba yang dianjurkan adalah berdasarkan luasan lahan, misalnya lahan seluas 2000 m2, maka Arkoba yang diberikan sebanyak 900 kg dan Asap Cair sebanyak 180 ml cuka kayu yang telah dicampur dengan air sebanyak 51 liter. Pemberian cuka kayu dilakukan dengan menyemprotkan asap cair pada tanaman padi secara bertahap, yaitu awal tanam dan pada saat padi mulai menguning. Hasil panen padi menunjukan dari 2000 m2 sawah menghasilkan 1.020 kg gabah. Kemudian, untuk menghasilkan beras, gabah tersebut harus digiling dengan perhitungan 100 kg gabah menghasilkan 72-75 kg beras. (|*|)

Penulis: Dede Rustandi

Editor: Dr. Krisdianto


Lampiran: 0

Profil Peneliti

Statistik

Video ( Klik gambar untuk memulai )