Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Forest Products Research and Development Center

FORPRO Ajak Masyarakat Sukabumi Aplikasikan Arang Terpadu

22 Juli 2020, 14:45 WIB | Diupload oleh Dede Rustandi

P3HH (SUKABUMI, 21 Juli 2020) -Sebagai lembaga penelitian dan pengembangan Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan (FORPRO) terus berupaya untuk meningkatkan kemanfaatan IPTEK yang telah dihasilkan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mendiseminasikan hasil-hasil iptek kepada masyarakat.

“Kami mencoba untuk bisa membumikan iptek yang sudah kami hasilkan ini kepada masyarakat agar bisa memberikan kemanfaatan yang tinggi dan juga bisa membantu untuk menyelesaikan berbagai permasalahan di lapangan sesuai dengan iptek yang kami miliki” ujar Plt. Kepala P3HH, Dr. Wening Sri Wulandari dalam sambutannya pada kegiatan Alih Teknologi Arang Terpadu, Selasa (21/07/20).

Ia mengatakan bahwa iptek arang terpadu merupakan salah satu iptek unggulan yang paling banyak diminati dan diadopsi oleh masyarakat karena iptek arang terpadu ini merupakan iptek yang relatif sederhana dibanding iptek yang lain karena sangat mudah untuk diaplikasikan.

Alat yang digunakan untuk membuat arang dan asap cair relative sederhana dengan menggunakan bahan yang banyak ditemui disekitar kita seperti, drum dan bambu. FORPRO juga mengembangkan alat yang lebih modern dengan berbahan baku stainless steel yang beberapa kali telah berhasil disempurnakan sehingga memberikan kinerja yang optimal.

“Iptek arang terpadu juga merupakan iptek yang cukup komprehensif jadi bisa menghasilkan asap cair, arang aktif dan arkoba (arang kompos bioktif)” tambah Wening.

Asap cair/wood vinegar adalah cairan yang dihasilkan dari proses kondensasi asap yang muncul saat pembuatan arang. Arkoba merupakan campuran arang dan kompos yang dihasilkan melalui proses pengomposan dengan bantuan mikroba lignoselulotik yang tetap hidup dan bertahan di dalam kompos.

Ragam manfaat dari 3 produk arang terpadu tidak perlu diragukan lagi. Arang dapat digunakan sebagai penyaring air dan udara. Asap cair dapat dimanfaatkan antara lain sebagai biopestisida, hormon pertumbuhan tanaman, pengusir hama, dan bahan minuman kesehatan.

“Berbagai cerita sukses aplikasi arang terpadu telah banyak diukir. Kelompok Tani Wanita di Cianjur sukses mengembangkan asap cair secara komersial” kata Wening.

Aplikasi arang terpadu juga dapat dimanfaatkan dalam bidang kesehatan. “Dalam rangka peduli pandemik COVID 19, FORPRO mengembangkan disinfektan dan handsanitizer berbasis asap cair yang diberi nama DISAIR” ungkapnya.

Di akhir sambutannya Wening berharap kepada dinas pertanian dan dinas lingkungan hidup dan untuk bisa bersinergi dan mengembangkan jejaring dalam memanfaatkan iptek yang telah dihasilkan oleh FORPRO sehingga bisa menggerakkan perekonomian masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya unggulan di Sukabumi.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi dalam sambutannya yang dibacakan oleh Sekretaris Dinas, Ir. Ina Sri Inayati Setiyawati, M.Si mengatakan bahwa saat ini Kabupaten Sukabumi belum bisa mencapai target produksi pertanian.

“Belum tercapainya target produksi ini salah satunya penyebabnya adalah belum optimalnya produktivitas lahan perhektar” tambahnya.

Kepala Dinas berharap kegiatan alih teknologi ini berlanjut menjadi sebuah kerjasama dalam mengaplikasikan teknologi arang terpadu sehingga mampu meningkatkan produktivitas hasil pertanian Kabupaten Sukabumi dengan tetap menjaga kualitas lingkungan.

Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Hotel Augusta Pelabuhanratu ini menghadirkan narasumber 2 peneliti utama P3HH yaitu Profesor (Ris) Gustan Pari dan Dra. Gusmailina, M.Si serta dihadiri oleh56 peserta yang terdiri daripara pemangku kepentingan terkait, yaitu: Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sukabumi, Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Sukabumi, Kepolisian Resor Sukabumi, Kodim 0622 Sukabumi, penyuluh, dan kelompok tani.


Lampiran: 0

Profil Peneliti

Statistik

Video ( Klik gambar untuk memulai )

XYLARIUM BOGORIENSE 1915.