Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Forest Products Research and Development Center

PENYUSUNAN STANDAR INSTRUMEN PENGELOLAAN HUTAN DUKUNG PENCAPAIAN SDG’s DAN INDONESIA NET SINK FORESTRY AND LAND USE (FoLU) TAHUN 2030.

10 September 2021, 14:25 WIB | Diupload oleh Dede Rustandi

Bogor, Jum’at, 10 September 2021. Sebagai langkah strategis dalam memperkenalkan pusat baru dan peluang untuk membangun jaringan dalam penyusunan standar instrumen lingkungan hidup dan kehutanan berbasis ilmiah, Pusat Standardisasi Instrumen Pengelolaan Hutan Berkelanjutan (PuSTARhut), turut berkontribusi dalam penyelenggaraan INAFOR 2021, tanggal 7-8 September lalu.

International Conference of Indonesia Forestry and Environment Researchers atau INAFOR, merupakan kegiatan dua tahunan yang rutin diselenggarakan oleh Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK, dan pada tahun 2021 ini INAFOR diselenggarakan oleh Badan Standardisasi Instrumen LHK (BSI LHK).

Mengusung tema “Managing Forest and Natural Resources, Meeting Sustainable and Friendly Use” dalam Stream 2 INAFOR 2021, Plt Kepala Pustarhut BSI, Dr. Wening Sri Wulandari menyampaikan tema tersebut dipilih untuk mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG’s) di tahun 2030, serta mendukung target komitmen Indonesia Net Sink Forestry and Land Use/FoLU tahun 2030.

“Terdapat 17 dan 118 target SDG’s, dan bidang kehutanan memegang peran yang signifikan dalam pencapaian target tersebut. Pada FoLU, terdapat enam aksi mitigasi yang meliputi : terdapat enam aksi mitigasi utama yaitu pengurangan laju deforestasi dan degradasi hutan atau REDD+, pembangunan hutan tanaman industri, pengelolaan hutan lestari, rehabilitasi hutan, pengelolaan lahan gambut termasuk mangrove, dan peningkatan peran konservasi keanekaragaman hayati,” jelas Wening saat pembukaan Plenary Stream 2 (8/9/2021).

Plenary ini menghadirkan enam narasumber kunci dari dalam dan luar negeri, yaitu Mr. Seung-gil Lee (Korea-Indonesia Forest Cooperation Center/KIFCC), Dr. Liubov Volkova (University of Melbourne), dan Profesor Riset dari PuSTARhut BSILHK yaitu Prof. Ris. Chairil Anwar Siregar, Prof. Ris. Haruni Krisnawati, Prof. Ris. Dulsalam, dan Prof. Ris. Djarwanto.

Melalui paparan berjudul “Harnessing the Green Partnership of Korea-Indonesia in Restoring Peatland Ecosystem in the HLG Londerang, Jambi Province”, Mr. Seung-gil Lee menyampaikan pesan bahwa, pengembangan pengelolaan gambut berkelanjutan untuk pemanenan yang bertanggung jawab, harus diformulasikan sejalan dengan penelitian lapangan yang andal.

Sementara itu, Prof. Ris Chairil yang mengusung topik “Research Needs to Better Understanding Towards Conservative Production of Peatland Management”, menekankan, untuk mendukung kesukses retorasi ekosistem lahan gambut, setidaknya terdapat empat aktivitas utama yang perlu dilakukan, yaitu desain pembasahan kembali lahan gambut (rewetting) yang baik, percepatan revegetasi, pemberdayaan masyarakat, dan fasilitasi edukasi kepada masyarakat lokal.

Tidak ketinggalan, permasalahan kebakaran lahan gambut juga dibahas oleh Dr. Liubov dalam paparannya yang berjudul “Recovery of tropical peat swamp forests from disturbance”. Ia menyampaikan kebakaran gambut yang terjadi baik tunggal maupun berulang, dapat menyebabkan perubahan komposisi dan struktur gambut selama lebih dari 20 tahun. “Dengan demikian, perlindungan hutan rawa gambut dari kebakaran merupakan hal yang sangat penting,”, tuturnya.

Merangkum pentingnya upaya pengelolaan lahan gambut berkelanjutan, Prof. Ris Haruni, menyampaikan paparan berjudul “Managing Forest in a Sustainable World: meeting the benefits for biodiversity, livelihoods and climate resilience”. “Terdapat lima pilar dalam pengelolaan hutan berkelanjutan, terdiri dari forest zone assurance, business assurance, productivity, product diversification, dan competitiveness.,” jelasnya.

Terkait dengan produktivitas hutan, Prof. Ris. Dulsalam menuturkan bahwa, implementasi pemanenan ramah lingkungan (Reduce Impact Logging/RIL) dapat meningkatkan efisiensi pemanenan kayu dan mengurangi biaya operasional serta penanganan kerusakan sisa tegakan. Hal ini disampaikannya melalui paparan yang berjudul “Reduced Impact Logging in The Dried Land - Natural Production Forest in Indonesia”.

Menutup sesi paparan, Prof. Ris Djarwanto menyampaikan materi “Wood Preservation Technology and Development of Nano Preservative”. “Dengan teknologi nano dalam pengawetan kayu, terbukti dapat meningkatkan durabilitas spesies kayu yang kurang dikenal. Hal ini juga meyakinkan bahwa teknologi tersebut mampu meningkatkan sifat fisik-mekanis kayu berkualitas rendah.

Dipandu Ir. Adi Susmianto, MSc. INAFOR Stream 2 dihadiri oleh ratusan peneliti, pemangku kepentingan, serta aktivis lingkungan, yang sangat interaktif dalam diskusi. Dalam sesi pararel, Stream 2 menampilkan presentasi 79 IPTEK dan inovasi terkini, serta tur virtual menjelajah laboratorium yang sangat menarik untuk disimak.

“Kami harap, dari Stream 2 akan diperoleh berbagai informasi berharga untuk penyusunan dan pengembangan standar instrumen pengelolaan hutan berkelanjutan, dan juga untuk pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi bidang lingkungan hidup dan kehutanan”, pungkas Dr. Wening.(***)

Penanggung jawab berita :

Dr. Wening Sri Wulandari, S.Hut., M.Si – Plt. Kepala PuSTARhut

INAFOR02

INAFOR03

INAFOR04

INAFOR05

INAFOR06


Lampiran: 0

Profil Peneliti

Statistik

Video ( Klik gambar untuk memulai )